Dibalik Doa Walimatul Nikah

on Senin, 05 Oktober 2009

Pembaca mulia, sebagai seorang muslim, kita tentu sering mendengar atau membaca doa walimatul nikah. Namun, barangkali kebanyakan di antara kita sering timbul pertanyaan, “Apa maksud dari doa tersebut?”

Lafadz Doa sebagai berikut :
بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ
/baarakallahu lak, wa baaraka ‘alaik, wa jama’a bainakuma fii khair/
(Lihat kitab المستدرك على الصحيحين /al-mustadral ‘ala shahihain/, karya محمد بن عبدالله أبو عبدالله الحاكم النيسابوري /Muhammad bin Abdillah Abu ‘Abdillah Al-Hakim An-Naisaburi/, cet. I Beirut, tahun 1411 H / 1990 M : Darul Kutub Al-Ilmiyyah, tahqiq: Musthafa Abdul Qadir Atha, juz II, hal. 199, hadits nomor: 2745. Kitab ini dicetak bersama kitab تعليقات الذهبي في التلخيص /ta’liqat Adz-Dzahabi fi At-Talkhiis/.)

Doa di atas, sering diterjemahkan: “Semoga Allah memberi berkah padamu, dan semoga Allah memberi berkah atasmu, dan semoga Ia mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.”
Sekilas, terjemahan di atas sudah tampak benar. Akan tetapi, terjemahan tersebut belumlah mewakili makna yang terkandung dalam doa walimah tersebut.


Rahasia Preposisi اللام dan على
Pembaca mulia, bila dilihat secara leksikal, memang tidak salah apabila kita menemui kalimat:
بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ
Lalu kita terjemahkan,
“Semoga Allah memberi berkah padamu, dan semoga Allah memberi berkah atasmu, dan semoga Ia mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”

Pertanyaannya adalah, “Apakah pembaca dapat membedakan makna padamu dan atasmu dalam terjemah doa walimah di atas? Tentu tidak bisa bukan?

Penjelasan
Pembaca mulia, preposisi اللام /laam/ secara harfiyyah artinya memang bisa diterjemahkan ‘pada’. Adapun على /’alaa/ dapat diterjemahkan ‘di atas’. Akan tetapi, jika kedua preposisi tersebut terdapat dalam satu kalimat secara bersamaan, makna preposisi tersebut tidak bisa lagi diterjemahkan secara harfiyyah’ pada’ atau ‘di atas’ lagi. Namun, makna اللام menunjukkan makna yang baik, sedangkan menunjukkan makna yang buruk. Oleh karena itu, jika memerhatikan hal ini, doa walimah di atas jika diterjemahkan akan menjadi panjang, yaitu:
“Semoga Allah memberi berkah padamu di saat rumah tanggamu dalam keadaan harmonis, dan semoga Allah (tetap) memberi berkah padamu di saat rumah tanggamu terjadi kerenggangan (terjadi prahara), dan semoga Dia (Allah) mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”.

Nah, bagaimana arti di saat rumah tanggamu dalam keadaan harmonis bisa muncul? Jawabnya adalah karena adanya preposisi اللام yang makna menunjukkan hal-hal yang baik jika disandingkan dengan preposisi على dalam satu kalimat. Konteks kalimat di atas adalah pernikahan, sehingga diketahui secara pasti bahwa hal-hal yang baik dalam pernikahan adalah ketika pasangan hidup dalam keadaan harmonis.

Demikian pula sebaliknya, arti di saat rumah tanggamu terjadi kerenggangan (terjadi prahara) dapat muncul sebagai terjemahan dari preposisi على . Preposisi ini akan menunjukkan makna yang buruk jika disandingkan dengan preposisi اللام dalam satu kalimat. Konteks kalimat di atas adalah penikahan, sehingga diketahui secara pasti bahwa hal-hal yang buruk dalam penikahan adalah ketika pasangan hidup mengalami kerenggangan atau prahara dalam rumah tangganya.
Sumber: http://alashree.wordpress.com

Read More......

Kuhadapkan muka hatiku

on Senin, 07 September 2009

Saat ku berdiri tegak, setegak tiang yang tak tergoyangkan, coba tuk satukan hati dan pikiran, ucap syair suci pahami di hati “ Allah Maha Besar lagi sempurna Kebesaran-Nya, segala puji bagi-Nya dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore.”
Tunduk kuucap “Kuhadapkan muka hatiku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan menyerahkan diri”, dan “ aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin.”
Semua kulakukan semua ini karena “ Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku semata hanya untuk Allah Seru sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan aku diperintahkan untuk tidak menyekutukan bagi-Nya”. Itu pula yang membuat “ aku dari golongan orang muslimin.”
“ Dengan nama Allah Yang Maha pengasih dan penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. Yang pengasih dan penyayang. Yang menguasai hari kemudian. Pada-Mulah aku mengabdi dan kepada-Mu lah aku meminta pertolongan. Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus. Bagaikan jalannya orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat. Bukan jalan mereka yang Engkau murkai, atau jalannya orang-orang yang sesat.” Desir lirih syair yang keluar dari mulutku.
Semakin ku tunduk aku berucap “ Maha suci Allah Maha Agung, serta memujilah aku kepada-Nya.”
Dan ku yakin bahwa “ Allah mendengar orang yang memuji-Nya “.
Tak pelak ku berucap “ Ya Allah Tuhan kami, Bagi-Mu segala puji, sepenuh langit dan bumi dan sepenuh barang yang Kau kehendaki sesudah itu “
Semakin larut aku dalam dimensi-Nya. Dimensi “ Maha suci Allah Maha Tinggi serta memujilah aku kepada-Nya.”
Duduk ku diam, lirih ku memohon “ Ya Allah ampunilah dosaku, belas kasihanilah aku, cukupkanlah segala kekurangan, angkatlah derajatku, berilah rizqi kepadaku, berilah aku petunjuk, berilah kesehatan kepadaku dan berilah ampunan kepadaku.”
Pujianpun terucap “ Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan bagi Allah. Salam, rahmat dan berkah-Nya kupanjatkan kepadamu wahai Nabi Muhammad. Salam keselamatan semoga tetap untuk kami seluruh hamba yang shaleh.”

Tak lupa ikrar “ aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melaikan Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah ”. “ Ya Allah limpahilah rahmat kepada Nabi Muhammad ”.
Akhiri semua dengan Doa “ Ya Allah limpahilah rahmat atas keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana pernah Engkau beri rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahilah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya. Sebagaimana Engkau memberi rahmat kepadaNabi Ibrahim dan keluarganya. Diseluruh alam semesta Engkaulah yang terpuji dan Maha Mulia “.
Akhir Syair “ Keselamatan dan rahmat Allah semoga tetap pada kamu sekalian “. Apapun yang kulakukan dan kuucap itu sangat berarti bagiku. Meskipun aku masih belajar tuk mengerti, memahami. Yang jelas ikrar yang kuucap benar dari hati dan pikiranku dan syair itu tak luput dari hari-hariku. Sehingga kurasa hariku semakin indah, tentram dalam dekapan-Nya.

Read More......

Pelajaran Tentang Mahar

on Senin, 29 Juni 2009

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Mahar atau mas kawin merupakan salah hal yang tidak dapat dilepaskan dari pernikahan. Banyak sekali jenis-jenis mahar, mulai dari perangkat alat sholat, Alquran, sejumlah uang, emas dan lainnya. Sebelum kita bahas lebih lanjut, perlu di fahami dulu apa itu Mahar? Mahar adalah pemberian dari pihak pria kepada pihak wanita pada saat pernikahan.

Fenomena yang terjadi di masyarakat saat ini, banyak yang menggunakan perangkat alat sholat dan Alquran sebagai mahar dalam perkawinan. Ada juga yang menggunakan sejumlah uang untuk mahar, jumlah uang tersebut di sesuaikan dengan tanggal pernikahan mereka, contohnya saja apabila menikah di tanggal 21 April 2008 maka maharnya sejumlah uang Rp. 21.042.008 atau Rp 210.408.

Mereka lebih memandang nilai artistik saja, tanpa mengindahkan nilai-nilai dasar tentang mahar. Bolehkah memberi mahar seperti itu??? Saya belum pernah membaca kisah para sahabat yang memberikan mahar sebagaimana Trend yang berkembang di tengah masyarakat kita sekarang ini. Yang ada adalah di zaman sahabat adalah, jika ia miskin, maka ia berikan harta yang terbaik yang dimilikinya. Atau jika ia benar-benar tidak punya harta, maka ia boleh memberikan "Hafalan Al-Qur'an" sebagai maharnya.

Mari kita renungkan ayat berikut:

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. -QS:An-Nisaa' (4):4

Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. - QS:Al-Baqarah(2):236.

Dalam ayat di atas, pemberian mahar lebih mengfokuskan pada perasaan penuh kerelaan dengan senang hati bukan sesuatu yang mewah dan berlebih-lebihan. Berilah mahar sesuai dengan kemampuan yang kamu miliki. Dalam Islam, permintaan dan pemberian MAHAR sangat berbeda dengan sifat materialis dan kepalsuan. Ini adalah ajaran Islam yang penuh hikmah, yang bertujuan untuk melindungi dan memuliakan wanita, serta memperkokoh keluarga.

Sebagaimana kata-kata bijak berikut ini:
"Sebaik-baiknya laki-laki adalah yang memberikan mahar yang banyak, dan sebaik-baiknya wanita adalah yang tidak meminta mahar yang banyak".
Sang laki-laki berusaha maksimal, sang wanita tak banyak menuntut. Alangkah indahnya ....

Mari kita renung pula kenyataan yang ada di masyarakat. Berapa banyak pasang suami-istri yang membaca Al-Qur'an setiap hari? Atau berapa sering sang suami sholat bersama sang istri dengan Perangkat Sholat yang diberikannya? Al-Qur'an dan Seperangkat Alat Sholat dijadikan simbol kesholehan saat pernikahan. Namun setelah itu, tak jarang Al-Qur'an hanya disimpan rapi dalam lemari, jarang disentuh, apalagi dibaca, dihayati dan diamalkan. Alangkah ironis!

Ada juga yang memberikan sejumlah uang sesuai dengan tanggal pernikahan seperti yang saya contohkan di atas, penyajian mahar uang tersebut juga beraneka ragam, ada yang membentuk sebuah perahu, ada yang dibentuk menjadi ikan dsb. Unsur yang dilihat hanyalah dari segi keindahan saja, padahal seorang suami bisa memberikan lebih dari itu, tapi demi unsur keindahan tersebut dia hanya memberikan sebagian saja. Coba renungkan, berapa biaya untuk membuat bentuk kapal, ikan dari mahar di samping ini. Mahar tersebut hanya mempunyai nilai artistik saja, tidak mempunyai nilai manfaat. Apabila mau dimanfaatkan, bentuk tersebut harus dibongkar ulang. Nah ini adalah bentuk pemborosan, benar tidak???

Dalam pernikahan saya dengan istri saya, saya tidak memberikan mahar berupa alat sholat maupun Al-Quran, saya takut akan tanggung jawab nantinya. Mahar yang saya berikan hanyalah sejumlah uang Rp 1 Juta rupiah, karena hanya itulah sisa uang saya setelah dikurangi beban biaya pernikahan. Istriku juga tidak menuntut apa-apa, dia iklas menerima, itu semua. Bahkan uang tersebut tidak digunakan untuk kepentingan dia sendiri. Dengan kuasa dia sebagai pemilik mahar, dia menggunakan uang mahar tersebut untuk keperluan rumah tangga bukan untuk kepentingan pribadinya.

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat, minimal untuk saudara-saudara yang belum menikah. Dan mohon maaf, kalau ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki, dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." - QS:An-Nuur (24):32

Read More......

Ketika iblis membentangkan sajadah!!!

on Kamis, 21 Mei 2009


Siang menjelang dzuhur, salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu Jum'at, saat berkumpulnya orang Islam untuk menjalankan rutinitas ibadah sholat Jum'at.

Iblis sudah ada dalam Masjid, ia tampak begitu khusyuk. Pada saat orang-orang mulai berdatangan, iblis menjelma menjadi ratusan bentuk dan masuk dari segala penjuru, lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat lubang pembuangan air.

Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga, ke dalam syaraf mata, ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga menempel di setiap sajadah.

Iblis dengan khusyuk berada di dalam masjid, akan menjalankan ibadah bersama kaum muslim, Benarkah???...

"Hai, Blis!", panggil Kiai, ketika baru masuk ke Masjid itu.
Iblis merasa terusik : "Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kau larang-larang saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!", jawab Iblis ketus.
"Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci, Kalau kau mau ganggu, kau bisa diluar nanti!", Kiai mencoba mengusir.
"Kiai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru". Kiai tercenung.
"Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu".
"Dengan apa?"
"Dengan sajadah!, Kiai. Salah satu alat yang digunakan kaummu untuk sholat"
"Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, Blis?"
"Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi keuntungan besar!"
"Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru,Blis?"
"Bukan itu saja Kiai..."
"Lalu?"
"Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah yang lebar-lebar"
"Untuk apa?"
"Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang Kau pimpin, Kiai! Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sajadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam kerenganggan itu. Di situ Saya bisa ikut membentangkan sajadah".

Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus. Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan. Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sajadahnya lebih kecil. Orang yang punya sajadah lebar seenaknya saja membentangkan sajadahnya, tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil, tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dulu datang. Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga sebagian sajadah yang lebar tertutupi sepertiganya.

"Nah, lihat itu Kiai!", Iblis memulai dialog lagi.
"Yang mana?"
"Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka".
Iblis lenyap.
Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf.
Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunah. Kiai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis sebelumnya. Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangun dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil kembali berada di bawahnya. Ia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melakukan hal serupa. Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah yang lebar. Itu berjalan sampai akhir sholat. Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadian-kejadian itu beberapa kali terihat di beberapa masjid.

Orang lebih memilih menjadi di atas, ketimbang menerima di bawah. Di atas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya. Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya diatas sajadah yang kecil. Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas.
Pemilik sajadah lebar, diindentikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat harus lebih di atas dari pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah kelas bawah yang setiap saat akan selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa.
Di atas sajadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain.
"Astaghfirullahal adziiiim ", ujar sang Kiai pelan.
Artikel :www.dudung.net
image edit by : soediar

Read More......